Jumat, Juli 07, 2006

The True Power Of Water

The True Power Of Water



Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup." (Q.S. Al Anbiya:30)

Dalam kitab-kitab tafsir klasik, ayat tadi diartikan bahwa tanpa air semua akan mati kehausan. Tetapi di Jepang, Dr. Masaru Em oto dari Universitas Yokohama dengan tekun melakukan penelitian tentang perilaku air.

Air murni dari mata air di Pulau Honshu didoakan secara agama Shinto, lalu didinginkan sampai -5oC di laboratorium, lantas difoto dengan mikroskop elektron dengan kamera kecepatan tinggi. Ternyata molekul air membentuk kristal segi enam yang indah. Percobaan diulangi dengan membacakan kata, "Arigato (terima kasih dalam bahasa Jepang)" di depan botol air tadi. Kristal kembali membentuk sang at indah. Lalu dicoba dengan menghadapkan tulisan huruf Jepang, "Arigato". Kristal membentuk dengan keindahan yang sama. Selanjutnya ditunjukkan kata "setan", kristal berbentuk buruk. Diputarkan musik Symphony Mozart, kristal muncul berbentuk bunga. Ketika musik heavy metal diperdengarkan, kristal hancur.

Ketika 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan "peace" di depan sebotol air, kristal air tadi mengembang bercabang-cabang dengan indahnya. Dan ketika dicoba dibacakan doa Islam, kristal bersegi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan. Subhanallah.

Dr. Emoto akhirnya berkeliling dunia melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin, Prancis, Palestina, dan ia kemudian diundang ke Markas Besar PBB di New York untuk mempresentasikan temuannya pada bulan Maret 2005 lalu. Ternyata air bisa "mendengar" kata-kata, bisa "membaca" tulisan, dan bisa "mengerti" pesan. Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Dr. Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk.

Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, semakin dalam pesan tercetak di air. Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yang lain. Barangkali temuan ini bisa menjelaskan, kenapa air putih yang didoakan bisa menyembuhkan si sakit. Dulu ini kita anggap musyrik, atau paling sedikit kita anggap sekadar sugesti, tetapi ternyata molekul air itu menangkap pesan doa kesembuhan, menyimpannya, lalu vibrasinya merambat kepada molekul air lain yang ada di tubuh si sakit.

Tubuh manusia memang 75% terdiri atas air. Otak 74,5% air. Darah 82% air. Tulang yang keras pun mengandung 22% air. Air putih galon di rumah, bisa setiap hari didoakan dengan khusyu kepada Allah, agar anak yang meminumnya saleh, sehat, dan cerdas, dan agar suami yang meminum tetap setia. Air tadi akan berproses di tubuh meneruskan pesan kepada air di otak dan pembuluh darah. Dengan izin Allah, pesan tadi akan dilaksanakan tubuh tanpa kita sadari. Bila air minum di suatu kota didoakan dengan serius untuk kesalehan, insya Allah semua penduduk yang meminumnya akan menjadi baik dan tidak beringas.

Rasulullah saw. bersabda, "Zamzam lima syuriba lahu", "Air zamzam akan melaksanakan pesan dan niat yang meminumnya". Barangsiapa minum supaya kenyang, dia akan kenyang. Barangsiapa minum untuk menyembuhkan sakit, dia akan sembuh. Subhanallah ... Pantaslah air zamzam begitu berkhasiat karena dia menyimpan pesan doa jutaan manusia selama ribuan tahun sejak Nabi Ibrahim a.s.

Bila kita renungkan berpuluh ayat Al Quran tentang air, kita akan tersentak bahwa Allah rupanya selalu menarik perhatian kita kepada air.

Bahwa air tidak sekadar benda mati. Dia menyimpan kekuatan, daya rekam, daya penyembuh, dan sifat-sifat aneh lagi yang menunggu disingkap manusia. Islam adalah agama yang paling melekat dengan air. Shalat wajib perlu air wudlu 5 kali sehari. Habis bercampur, suami istri wajib mandi. Mati pun wajib dimandikan. Tidak ada agama lain yang menyuruh memandikan jenazah, malahan ada yang dibakar. Tetapi kita belum melakukan zikir air. Kita masih perlakukan air tanpa respek. Kita buang secara mubazir, bahkan kita cemari. Astaghfirullah.

Seorang ilmuwan Jepang telah merintis. Ilmuwan muslim harus melanjutkan kajian kehidupan ini berdasarkan Al Quran dan hadis.

Wallahu a'lam ...




Disponsori Oleh :
Rental Laptop
Rental Komputer
Rental Pojector
Rental Infocus
Focus Rent
Rental Focus Rent

Focus Rent

Posted by at 18:41:46 | Permanent Link | Comments (0) |

Aku Ingin

Aku Ingin
(M. Annis Mata)
Aku Cinta Kamu !
Berapa kali Anda mengucapkan kalimat itu kepada istri Anda dalam sehari ? Saya jelas tidak bisa menebaknya. Tapi beberapa orang Suami atau istri mungkin bertanya : perlukah itu diucapkan setiap hari ? Apa yang mungkin bisa “dilakukan” kalimat itu dalam hati seorang istri bila diucapkan seorang suami pada saat anak ketiganya menangis karena susunya habis ? Ada juga anggapan seperti ini : kalimat itu hanya dibutuhkan oleh mereka yang romantis dan sedang jatuh cinta, dan itu biasanya ada sebelum atau pad awal-awal pernikahan. Setelah usia nikah memasuki tahun ke tujuh, realita dan rutinitas serta perasaan bahwa kita sudah tua membuat kita tidak membutuhkannya lagi.
Saya juga hampir percaya bahwa romantika itu tidak akan bertahan di depan gelombang realitas atau bertahan untuk tetap berjalan bersama usia pernikahan. Tapi kemudian saya menemukan ada satu fitrah yang lekat kuat dalam diri manusia bahwa sifat kekanak-kanakan – dan tentu dengan segala kebutuhan psikologisnya – tidak akan pernah lenyap sama sekali dari kepribadian seseorang selama apapun usia memakan perasaannya. Kebutuhan anak-anak akan ungkapan-ungkapan verbal yang sederhana dan lugas dari ekspresi rasa cinta itu sama-sama dibutuhkan dan tidak ada alasan untuk mengatakan bawha yang satu lebih dibutuhkan dari yang lain.
Perasaan manusia selamanya fluktuatif. Demikian pula semua jenis emosi yang dianggap dalam perasaan kita. Kadar rasa cinta, benci, takut, senang, dan semacamnya tidak akan pernah sama dari waktu ke waktu. Tapi yang mungkin terasa sublim adalah bahwa fluktuasi perasaan itu sering tidak disadari dan tidak terungkap atau disadari tapi tidak terungkap.
Situasi ini kemudian mengantar kepada kenyataan lain. Bahwa setiap kita tidak akan pernah bisa mengetahui dengan pasti perasaan orang lain terhadap dirinya. Kita mungkin bisa menangkap itu dari sorotan mata, gerak tubuh, dan perlakuan umum, tapi detil perasaan itu tetap tidak terungkap selama ia tidak diungkapkan secara verbal.
Perluka detail perasaan itu kita ketahui, kalau isyarat-isyaratnya sudah terungkap ? Mungkin ya mungkin tidak. Tapi yang pasti bahwa kita semua, dari waktu ke waktu, membutuhkan kepastian. Kepastian bahwa kita tidak salah memahami isyarat itu. Bukankah kepastian juga yang diminta Nabi Ibrahim a.s. ketika beliau ingin menghidupkan dan mematikan ?
Dari suasana ketidakpastian itulah biasanya setan memasuki dunia hati kita. Karena salah satu misi besar setan, kata Ibnul Qoyyim al Jauziyah adalah memisahkan orang yang saling mencintai “Dan mereka belajar dari keduanya sesuatu yang dengannya mereka memisahkan seseorang dari pasangannya.”(Q.S. 2:102)
Dari sinilah ungkapan verbal berupa kata menemukan maknanya. Bahkan sesungguhnya ada begitu banyak kekurangan dalam perbuatan yang ‘beban psikologisnya’ dapat terkurangi dengan kata. Ketika Anda menolak seorang pengemis karena tidak memiliki sesuatu yang dapat Anda sedekahkan, itu tentu sakit bagi pengemis itu. Tapi Allah menyuruh kita ‘mengurangi’ beban sakit itu dengan kata yang baik. Bukankah “perkataan yang baik lebih baik dari sedekah yang disertai cacian” ?
Selanjutnya, perhatikan riwayat berikut ini : Suatu ketika seorang sahabat duduk bersama Rasulullaah SAW. Kemudian seorang sahabat yang lain berlalu di depan mereka. Sahabat yang duduk bersama Rasulullaah SAW itu berkata kepada beliau :
‘Ya Rasulullaah, sesungguhnya aku mencintai orang itu.”.
‘Sudahkah engkau menyatakan cintamu padanya ?’ t anya Rasulullaah saw.
‘Belum wahai Rasul’ Kata sahabat itu
‘Pergilah menemui orang itu dan katakan bahwa kamu mencintainya’ kata Rasulullaah SAW.
Jika kepada sesama sahabat atau ikhwah rasa cinta harus diungkapkan secara verbal, dapatkah kita membayangkan seperti apakah verbalnya ungkapan rasa cinta yang semestinya kita berikan kepada istri kita ? Apakah mahluk yang satu itu, yang mendampingi kita lebih banyak dalam saat-saat lelah dan susah dibandingkan saat-saat suka dan lapang, tidak lebih berhak untuk mendengarkan ungkapan rasa cinta itu ?
Sekarang simak kisah Aisyah ra. berikut ini :
Aisyah seringkali bermanja-manja kepada Rasulullaah SAW, karena hanya dia lah satu-satunya istri beliau yang perawan. Tapi satu waktu Aisah masih bertanya juga kepada Rasulullaah SAW. :
‘Jika engkau turun di satu lembah lalu engkau lihat di situ ada rumput yang telah dimakan oleh gembala lain dan ada rumput yang belum dimakan, di rumput manakah gembalamu engkau suruh makan ?’
Rasulullaah saw menjawab : ‘Tentulah pada rumput yang masih belum dimakan gembala lain” (H.R. Bukhari)
Apakah Aisyah tidak tahu bahwa Rasulullaah SAW sangat dan sangat mencintainya ? tentu saja tahu. Bahkan sangat tahu. Tapi mengapa ia masih harus bertanya dengan metafora seperti di atas, dengan menonjolkan keperawanannya sebagai kelebihan yang membuatnya berbeda dari istri-istri Rasulullaah saw lainnya ?
Apakah ia ragu ? Saya tidak yakin kalau itu dirasakan Aisyah. Ia rasanya hanya ingin menginginkan kepastian lebih banyak, pengetahuan lebih banyak. Karena kepastian itu, karena peneguhan itu, memberinya nuansa jiwa yang lain : semacam rasa puas dari waktu ke waktu bahwa ‘lebih’ dari istri-istri Rasulullaah saw yang lain, bahwa ia lebih istimewa.
Di tengah kesulitan ekonomi seperti sekarang, tidak banyak di antara kita yang sanggup memenuhi kebutuhan-kebutuhan rumah tangga secara ideal. Dan dalam banyak hal kita mungkin perlu untuk lebih toleransi/lapang dada dalam hal pola hubungan ‘hak dan kewajiban’ yang sering kali menandai bentuk hubungan kita secara harfiah. Atau mungkin mengurangi efek psikologis yang ditumbuhkan oleh ketidakmampuan kita memenuhi semua kewajiban dengan ‘kata yang baik’.
Anda mungkin sering melihat betapa lelahnya istri Anda menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah. Mulai dari memasak, mencuci, sampai menjaga dan merawat anak. Kerja berat itu sering kali tidak disertai dengan sarana teknologi yang mungkin dapat memudahkannya.
Setan apakah yang telah meyakinkan kita begitu rupa bahwa mahluk mulia yang bernama istri kita tidak butuh ungkapan “i love you” karena ia seorang ‘da’iyah’, karena ia seorang ‘mujahidah’ atau karena kita sudah sama-sama tahu, sama-sama paham, atau karena kita sudah sama-sama tuadan karenanya tidak cocok menggunakan cara ‘anak-anak muda’ menyatakan cinta ? Setan apakah yang telah membuat kita begitu pelit untuk memberikan sesuatu yang manis walaupun hanya ungkapan kata ? Setan apakah yang telah membuat kita begitu pelit untuk memberikan sesuatu yang manis walaupun itu hanya ungkapan kata ? Setan apakah yang telah membuat kita begitu angkuh untuk mau merendah dan membuka rahasia hati kita yang sesungguhnya dan menyatakannya secara sederhana dan tanpa beban ?
Tapi mungkin juga ada situasi begini : Anda mencintai istri Anda. Anda juga tidak terhambat oleh keangkuhan untuk menyatakannya berulang-ulang. Masalahnya hanya satu, Anda tidak biasa melakukan itu. Dan itu membuat Anda kaku.
Jika Anda termasuk golongan ini, tulislah pula puisi Sapardi Djoko Darmono ini dan berikanlah kepada istri Anda melalui putra atau putri Anda :
Aku ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
Dengan kata yang tak sempat diucapkanc
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
Dengan isyarat yang dak sempat disampaikan
Posted by at 18:23:16 | Permanent Link | Comments (0) |