Aku Ingin
(M. Annis Mata)
Aku Cinta Kamu !
Berapa kali Anda mengucapkan kalimat itu kepada istri Anda dalam sehari ? Saya jelas tidak bisa menebaknya. Tapi beberapa orang Suami atau istri mungkin bertanya : perlukah itu diucapkan setiap hari ? Apa yang mungkin bisa “dilakukan” kalimat itu dalam hati seorang istri bila diucapkan seorang suami pada saat anak ketiganya menangis karena susunya habis ? Ada juga anggapan seperti ini : kalimat itu hanya dibutuhkan oleh mereka yang romantis dan sedang jatuh cinta, dan itu biasanya ada sebelum atau pad awal-awal pernikahan. Setelah usia nikah memasuki tahun ke tujuh, realita dan rutinitas serta perasaan bahwa kita sudah tua membuat kita tidak membutuhkannya lagi.
Saya juga hampir percaya bahwa romantika itu tidak akan bertahan di depan gelombang realitas atau bertahan untuk tetap berjalan bersama usia pernikahan. Tapi kemudian saya menemukan ada satu fitrah yang lekat kuat dalam diri manusia bahwa sifat kekanak-kanakan – dan tentu dengan segala kebutuhan psikologisnya – tidak akan pernah lenyap sama sekali dari kepribadian seseorang selama apapun usia memakan perasaannya. Kebutuhan anak-anak akan ungkapan-ungkapan verbal yang sederhana dan lugas dari ekspresi rasa cinta itu sama-sama dibutuhkan dan tidak ada alasan untuk mengatakan bawha yang satu lebih dibutuhkan dari yang lain.
Perasaan manusia selamanya fluktuatif. Demikian pula semua jenis emosi yang dianggap dalam perasaan kita. Kadar rasa cinta, benci, takut, senang, dan semacamnya tidak akan pernah sama dari waktu ke waktu. Tapi yang mungkin terasa sublim adalah bahwa fluktuasi perasaan itu sering tidak disadari dan tidak terungkap atau disadari tapi tidak terungkap.
Situasi ini kemudian mengantar kepada kenyataan lain. Bahwa setiap kita tidak akan pernah bisa mengetahui dengan pasti perasaan orang lain terhadap dirinya. Kita mungkin bisa menangkap itu dari sorotan mata, gerak tubuh, dan perlakuan umum, tapi detil perasaan itu tetap tidak terungkap selama ia tidak diungkapkan secara verbal.
Perluka detail perasaan itu kita ketahui, kalau isyarat-isyaratnya sudah terungkap ? Mungkin ya mungkin tidak. Tapi yang pasti bahwa kita semua, dari waktu ke waktu, membutuhkan kepastian. Kepastian bahwa kita tidak salah memahami isyarat itu. Bukankah kepastian juga yang diminta Nabi Ibrahim a.s. ketika beliau ingin menghidupkan dan mematikan ?
Dari suasana ketidakpastian itulah biasanya setan memasuki dunia hati kita. Karena salah satu misi besar setan, kata Ibnul Qoyyim al Jauziyah adalah memisahkan orang yang saling mencintai “Dan mereka belajar dari keduanya sesuatu yang dengannya mereka memisahkan seseorang dari pasangannya.”(Q.S. 2:102)
Dari sinilah ungkapan verbal berupa kata menemukan maknanya. Bahkan sesungguhnya ada begitu banyak kekurangan dalam perbuatan yang ‘beban psikologisnya’ dapat terkurangi dengan kata. Ketika Anda menolak seorang pengemis karena tidak memiliki sesuatu yang dapat Anda sedekahkan, itu tentu sakit bagi pengemis itu. Tapi Allah menyuruh kita ‘mengurangi’ beban sakit itu dengan kata yang baik. Bukankah “perkataan yang baik lebih baik dari sedekah yang disertai cacian” ?
Selanjutnya, perhatikan riwayat berikut ini : Suatu ketika seorang sahabat duduk bersama Rasulullaah SAW. Kemudian seorang sahabat yang lain berlalu di depan mereka. Sahabat yang duduk bersama Rasulullaah SAW itu berkata kepada beliau :
‘Ya Rasulullaah, sesungguhnya aku mencintai orang itu.”.
‘Sudahkah engkau menyatakan cintamu padanya ?’ t anya Rasulullaah saw.
‘Belum wahai Rasul’ Kata sahabat itu
‘Pergilah menemui orang itu dan katakan bahwa kamu mencintainya’ kata Rasulullaah SAW.
Jika kepada sesama sahabat atau ikhwah rasa cinta harus diungkapkan secara verbal, dapatkah kita membayangkan seperti apakah verbalnya ungkapan rasa cinta yang semestinya kita berikan kepada istri kita ? Apakah mahluk yang satu itu, yang mendampingi kita lebih banyak dalam saat-saat lelah dan susah dibandingkan saat-saat suka dan lapang, tidak lebih berhak untuk mendengarkan ungkapan rasa cinta itu ?
Sekarang simak kisah Aisyah ra. berikut ini :
Aisyah seringkali bermanja-manja kepada Rasulullaah SAW, karena hanya dia lah satu-satunya istri beliau yang perawan. Tapi satu waktu Aisah masih bertanya juga kepada Rasulullaah SAW. :
‘Jika engkau turun di satu lembah lalu engkau lihat di situ ada rumput yang telah dimakan oleh gembala lain dan ada rumput yang belum dimakan, di rumput manakah gembalamu engkau suruh makan ?’
Rasulullaah saw menjawab : ‘Tentulah pada rumput yang masih belum dimakan gembala lain” (H.R. Bukhari)
Apakah Aisyah tidak tahu bahwa Rasulullaah SAW sangat dan sangat mencintainya ? tentu saja tahu. Bahkan sangat tahu. Tapi mengapa ia masih harus bertanya dengan metafora seperti di atas, dengan menonjolkan keperawanannya sebagai kelebihan yang membuatnya berbeda dari istri-istri Rasulullaah saw lainnya ?
Apakah ia ragu ? Saya tidak yakin kalau itu dirasakan Aisyah. Ia rasanya hanya ingin menginginkan kepastian lebih banyak, pengetahuan lebih banyak. Karena kepastian itu, karena peneguhan itu, memberinya nuansa jiwa yang lain : semacam rasa puas dari waktu ke waktu bahwa ‘lebih’ dari istri-istri Rasulullaah saw yang lain, bahwa ia lebih istimewa.
Di tengah kesulitan ekonomi seperti sekarang, tidak banyak di antara kita yang sanggup memenuhi kebutuhan-kebutuhan rumah tangga secara ideal. Dan dalam banyak hal kita mungkin perlu untuk lebih toleransi/lapang dada dalam hal pola hubungan ‘hak dan kewajiban’ yang sering kali menandai bentuk hubungan kita secara harfiah. Atau mungkin mengurangi efek psikologis yang ditumbuhkan oleh ketidakmampuan kita memenuhi semua kewajiban dengan ‘kata yang baik’.
Anda mungkin sering melihat betapa lelahnya istri Anda menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah. Mulai dari memasak, mencuci, sampai menjaga dan merawat anak. Kerja berat itu sering kali tidak disertai dengan sarana teknologi yang mungkin dapat memudahkannya.
Setan apakah yang telah meyakinkan kita begitu rupa bahwa mahluk mulia yang bernama istri kita tidak butuh ungkapan “i love you” karena ia seorang ‘da’iyah’, karena ia seorang ‘mujahidah’ atau karena kita sudah sama-sama tahu, sama-sama paham, atau karena kita sudah sama-sama tuadan karenanya tidak cocok menggunakan cara ‘anak-anak muda’ menyatakan cinta ? Setan apakah yang telah membuat kita begitu pelit untuk memberikan sesuatu yang manis walaupun hanya ungkapan kata ? Setan apakah yang telah membuat kita begitu pelit untuk memberikan sesuatu yang manis walaupun itu hanya ungkapan kata ? Setan apakah yang telah membuat kita begitu angkuh untuk mau merendah dan membuka rahasia hati kita yang sesungguhnya dan menyatakannya secara sederhana dan tanpa beban ?
Tapi mungkin juga ada situasi begini : Anda mencintai istri Anda. Anda juga tidak terhambat oleh keangkuhan untuk menyatakannya berulang-ulang. Masalahnya hanya satu, Anda tidak biasa melakukan itu. Dan itu membuat Anda kaku.
Jika Anda termasuk golongan ini, tulislah pula puisi Sapardi Djoko Darmono ini dan berikanlah kepada istri Anda melalui putra atau putri Anda :
Aku ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
Dengan kata yang tak sempat diucapkanc
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
Dengan isyarat yang dak sempat disampaikan